Monday, 5 March 2012
88 Tahun Tanpa Khilafah : From Imarah To Khilafah
(Arrahmah.com) - 3 Mac 2012 tahun ini genap 88 tahun kaum Muslimin hidup tanpa naungan Khilafah. Musthafa Kamal Attaturk, agen barat keturunan Yahudi yang lahir di Salanik atau Salonika (1880 M/1296 H) ini pada tarikh 3 Mac 1924 melalui sidang Dewan Perwakilan Nasional, memecat Khalifah, membubarkan sistem Khilafah, dan menghapus sistem pemerintahan Islam yang telah berjalan ribuan tahun tersebut dari Khilafah Utsmaniyyah di Turki.
Sejak peristiwa 3 Mac 1924, kaum Muslimin hidup tanpa naungan Khilafah, terpecah belah menjadi sekitar 60 negara nasionalis yang tidak terikat satu sama lain dengan ikatan yang sahih (aqidah Islam), dihinakan, wilayahnya diduduki penjajah, darahnya ditumpahkan, kehormatannya dilecehkan, dan agamanya dinistakan.
Kini, setelah 88 tahun berlalu, gaung kebangkitan Islam yang sejak lama diperjuangkan mulai menampakkan hasilnya. Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia melihat secercah harapan kembalinya kejayaan dan keberkahan hidup di bawah naungan syariat Islam di bawah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah.
Nubuwwah dari Rasulullah SAW., yang memberitakan akan berakhirnya masa kepemimpinan para diktaktor yang kejam dan bengis dan menjadi awal kemunculan sistem Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian mulai terlihat tanda-tandanya.
Keruntuhan rejim diktaktor Tunisia, disusuli Mesir, Libya, dan kini Suriah menjadi tanda dan bukti benarnya berita kenabian Rasulullah SAW. Sementara itu, fenomena kemunculan negara-negara Islam atau yang lebih dikenal dengan Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq menjadi penanda dan bukti yang menguatkan bahawa masa kedatangan Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian sudah semakin dekat. Kerana seluruh Imarah Islam yang ada bercita-cita mewujudkan Khilafah Islamiyah mengikuti metode kenabian. Insya Allah!
Bagaimana Khilafah Islam Diruntuhkan ?
Syekh Abdullah Azzam rahimahullah dalam bukunya ‘Al Manarah Al Mafqudah’ (Pelita Yang Hilang) menjelaskan penyebab runtuhnya kekhilafahan. Menurut beliau, orang-orang Eropah berpendapat bahawa cara yang paling mudah untuk mematikan Islam adalah melayangkan pukulan mematikan melalui tangan putera-puteranya yang mengaku sebagai kaum Muslimin.
Musthafa Kamal Attaturk datang mewujudkan impian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya oleh orang-orang Eropah yakni memecat Khalifah, membubarkan sistem Khilafah, dan menghapus sistem pemerintahan Islam yang telah berjalan ribuan tahun dari Khilafah Ustmaniyyah di Turki.
Menurut Syekh Abdullah Azzam dalam ‘Al Manarah Al Mafqudah’ buku beliau yang diterbitkan di Shada, perbatasan Afghanistan pada 26 Jun 1987 tersebut, Musthafa Kamal Attaturk lahir di kota Salonika atau kota Yahudi, yang berpenduduk 140.000 orang, di mana 80.000 di antaranya adalah orang-orang Yahudi Espana dan 20.000 lagi adalah orang-orang Yahudi Aldunama, yakni kaum Yahudi yang berpura-pura masuk Islam (dokumen duta Inggeris, Lother, tarikh 29-5-1910), diterbitkan oleh Majalah Al-Mujtama’ no. 425-529, 1978.)
Musthafa Kamal Attaturk adalah agen dan orang suruhan orang-orang kafir Eropah, terutama Inggeris. Musthafa memulakan pengkhianatannya ketika berada di Palestin, dengan mengadakan perjanjian dengan Allenby, panglima pasukan Inggeris. Dari pengkhianatan itu disepakati Musthafa menarik pasukannya dari Palestin dan memberi kesempatan kepada Allenby untuk masuk bersama pasukannya dalam keadaan tenang dan damai. Pasukan Allenby akhirnya memukul mundur pasukan ke IV Turki dengan pukulan yang mematikan. Akibat dari pengkhianatan awal Musthafa, kekuatan Turki hancur untuk selama-lamanya di mana hasil pertempuran sangat memilukan, jumlah tawanan mendekati seratus ribu tentara, tidak termasuk jumlah mereka yang mati oleh peluru orang-orang Druze dan Armenis (Ar Rajulu Ash-Shanamu)
.
Syekh Abdullah Azzam membentangkan dalam ‘Pelita yang Hilang’ bukti-bukti pengkhianatan Musthafa Kamal Attaturk dan kesepakatannya dengan Inggeris.
1. Mundurnya Musthafa Kamal dari posisi strategis yang terlindung kuat, yakni di timur Nabulus, yang dilakukan persis di malam masuknya pasukan Allenby, 19 September 1917, dengan mendadak dan dalam waktu yang singkat.Dhabith Tarki Sabiq, mantan jenderal Turki, penulis buku Ar Rajulu Ash-Shanamu, Kamal Attaturk (Manusia Berhala, Kamal Attaturk), menyatakan : “Di sini terjadi kesepakatan antara Mustafa Kamal dengan panglima pasukan Inggeris, Jenderal Allenby, secara rahsia. Isi kesepakatan tersebut ialah Musthafa Kamal akan menarik mundur pasukannya secara mendadak, sehingga tentara Turki tidak mampu melakukan pertahanan. Tentu saja hal itu menyebabkan mereka jatuh ke tangan musuh.
2. Inggeris mengadakan hubungan dengan Musthafa Kamal pada waktu dia masih menjadi panglima pasukan di Palestin. Mereka memujuk Musthafa Kamal untuk mengadakan pemberontakan terhadap Sultan dan Inggeris berjanji untuk membantu rencana tersebut.
3. Setelah Allenby merebut kemenangan, maka ia datang ke Istambul. Dia meminta Daulah Turki yang kalah untuk mengangkat Musthafa Kamal sebagai panglima pasukan ke IV dekat wilayah Mousil (kota di Iraq), di mana pengaruh Inggeris dan daerah minyak terletak. Tujuannya supaya Musthafa Kamal dapat melindungi berbagai kepentingan Inggeris dan mengamankan mereka di sana.
4. Musthafa Kamal, setelah kekalahan besar yang dideritai Turki dan sesudah kembali ke Turki, mempunyai hubungan rahsia dengan pastor yang dikenal dengan nama Frid, seorang ketua perisikan Inggeris di Turki.
5. Sandiwara kemenangan yang gemilang di Anatolie, khususnya di wilayah Sicoria, Azmir, dan Avion yang menjadikan Musthafa Kamal dapat menjulang kehebatannya bagaikan sebuah lagenda. Maka sempurnalah sandiwara tersebut dengan penampilan yang memukau dan merampas perasaan hati itu. Inggeris telah menekan Khalifah sedemikian rupa sehingga dia nampak lemah dan tak berdaya. Sementara di sisi lain mereka berpura-pura lemah menghadapi Musthafa Kamal agar nampak bahawa dia adalah pahlawan satu-satunya di Turki.
Akhirnya pada tarikh 3 Mac 1924, Musthafa Kamal, sang agen dan orang suruhan Inggeris keturunan Yahudi tersebut mengusulkan rencana untuk menghapus, membubarkan khilafah, memisahkan antara agama dan negara, serta mengganti Mahkamah Syariah dan Undang-Undang Syariah dengan Mahkamah Moden (Thaghut) dan Undang-Undang Moden (Thaghut).
Syekh Abdullah Azzam mengulas tindakan keji Musthafa Kamal tersebut: “Sungguh Musthafa Kamal telah mencabut bangunan yang tinggi dari tapaknya. Bangunan yang selama lima abad menjadi menara petunjuk bagi kaum Muslimin, menjadi pelita yang menerangi kaum Muslimin di bumi Turki.”
Syekh Abdul Qadim Zallum, dalam bukunya “How The Khilafah Destroyed” (Kaifa Hudimat al-Khilafah) menceritakan detik-detik di mana Khilafah Islam terakhir di Turki diruntuhkan oleh agen Inggeris, Musthafa Kamal Attatruk.
“Pada pagi hari bertarikh 3 Mac 1924, diumumkan bahawa Majlis Nasional telah menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Pada malamnya, Musthafa Kamal mengirimkan perintah kepada gabenor Istambul yang menetapkan bahawa Khalifah Abdul Majid harus meninggalkan Turki sebelum fajar hari berikutnya. Pada tengah malam, gabenor bersama satu pasukan dari kesatuan polis dan militer mendatangi istana Khalifah. Khalifah dipaksa masuk ke dalam kenderaan yang kemudian membawanya melintasi perbatasan menuju Swiss setelah dia dibekalkan satu beg berisi beberapa helai pakaian dan sejumlah wang. Dua hari kemudian, Musthafa mengumpulkan seluruh putera dan puteri Sultan, kemudian mendeportasinya ke luar negeri. Seluruh institusi agama dihapuskan dan waqaf kaum Muslimin menjadi milik negara. Sekolah-sekolah agama diubah menjadi sekolah umum di bawah pengawasan kementerian pendidikan. Demikianlah bagaimana caranya Khilafah diruntuhkan. Khilafah benar-benar runtuh, dan ikut runtuh pula Islam dalam kapasitinya sebagai konstitusi negara, sebagai sumber perundangan umat, serta sebagai pedoman hidup. Semuanya itu adalah perbuatan Inggeris melalui kaki tangan dan agen mereka, si pengkhianat Musthafa Kamal Pasha.”
Lihat apa yang diucapkan Musthafa Kamal dalam pidatonya yang disampaikan pada anggota dewan:
“Dengan harga apa yang harus dibayar untuk menjaga Republik yang terancam ini dan menjadikannya berdiri kokoh di atas prinsip ilmiah yang kuat? Jawapannya Khalifah dan semua keturunan keluarga Utsman harus pergi (dari Turki), mahkamah agama yang kuno dan undang-undangnya harus diganti dengan mahkamah dan undang-undang moden, sekolah-sekolah kaum agamawan harus diubah tempatnya untuk dijadikan sekolah-sekolah negeri yang non agama.”
Dan Umat Islam pun Tercerai Berai
Pasca diruntuhkannya Khilafah Islam yang terakhir di Turki, umat Islam tercerai berai, bagai anak ayam kehilangan ibunya. Kaum Muslimin terpecah belah menjadi sekitar 60 negara nasionalis yang tidak terikat satu sama lain dengan ikatan yang sahih (aqidah Islam).
Setelah Khilafah Islam diruntuhkan, kaum Muslimin berpecah belah dan menyebar pada jalan yang berbeza-beza laksana domba di malam hujan, di mana kemudian kawanan serigala menerkam kaum Muslimin yang tercerai berai tersebut. Semua musuh mencabut senjatanya dan menghunuskan pedangnya untuk menyembelih siapapun dan dengan cara bagaimanapun yang mereka sukai. Khilafah Islam, sang pelindung umat sudah tiada lagi.
Syeikh mujahid, Usamah bin Ladin rahimahullah dalam “Taujih Manhajiyah 2” menggambarkan derita umat akibat tercerai berai dan tidak memiliki pemimpin.
“ Pada saat darah orang-orang Islam mengalir dan ditumpahkan, di Palestin, Chechnya, Philipina, Kashmir dan Sudan, dan anak-anak kita mati lantaran embargo Amerika di Irak. Dan ketika luka-luka kita belum sembuh, sejak serangan-serangan salib terhadap dunia Islam pada kurun yang lalu, dan yang merupakan hasil dari kesepakatan Saix-Piccot antara Inggeris dan Perancis, yang menyebabkan dunia Islam terbagi-bagi menjadi potongan-potongan, sedangkan para kakitangan salib masih berkuasa di dalamnya sampai hari ini, tiba-tiba keadaan yang serupa menghadang kita dengan kesepakatan Saix-Piccot, yaitu kesepakatan Bush-Blair, akan tetapi kesepakatan itu di bawah bendera yang sama, dan tujuannya juga sama. Benderanya adalah bendera salib, dan tujuannya adalah merampas dan menghancurkan umat Nabi kita sollallohu ‘alai wa sallam yang dicintai.
Sesungguhnya kesepakatan Bush-Blair mengaku ingin menghancurkan teroris, namun tidak samar lagi, meskipun bagi orang awam sekalipun, bahawa kesepakatan itu bertujuan untuk menghancurkan Islam, namun demikian para penguasa negara-negara kawasan timur tengah tetap saja menyatakan dukungan mereka, melalui berbagai ceramah dan tulisan, terhadap terhadap Bush di dalam memerangi teroris, yaitu memerangi Islam dan kaum muslimin, dalam sebuah pengkhianatan yang jelas terhadap Islam dan umatnya, dengan dukungan restu dari para ulama’ pemerintah dan para menterinya.”
Kesepakatan atau Perjanjian Saix-Piccot adalah kesepakatan rahsia yang berlangsung pada tahun 1334 H ketika perang dunia pertama antara Inggeris dan Perancis, atas persetujuan Rusia untuk memecah-belah Daulah ‘Utsmaniyah dan membagi daerah-daerah yang tunduk di bawah kekuasaan ‘Utsmaniyah --- iaitu Suriah, Irak, Lebanon dan Palestin --- ke daerah-daerah yang tunduk kepada kekuasaan Perancis, sedangkan yang lainnya tunduk kepada kekuasaan Inggeris. Kesepakatan tersebut dinamakan dengan nama tersebut kerana dinisbahkan kepada pelakunya iaitu Marlk Saix orang Inggeris dan George Piccot, orang Perancis.
Syekh Usamah rahimahullah melanjutkan :
“Dan sesungguhnya di antara tujuan terpenting dari serangan salibis baru ini adalah mempersiapkan kondisi negara-negara di wilayah timur tengah, setelah dilakukan pembagian, untuk mendirikan negara Israel Raya, yang mencakupi sebagian besar Irak dan Mesir merentasi Suria, Lebanon, Jordan, seluruh daerah Palestin dan sebagian besar dari negeri haramain (dua tanah suci).
Lalu, bagaimana caranya agar umat Islam yang tercerai berai tersebut boleh bersatu kembali di bawah naungan Khilafah Islamiyyah? Bagaimana pula caranya menahan keganasan orang-orang kafir yang membantai kaum Muslimin ?
Syeikh mujahid, Usamah bin Ladin menjawabnya:
“Maka jalan untuk menahan kekuatan orang-orang kafir adalah jihad fi sabilillah, sebagaimana firman Allah SWT:
" Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)." (An Nisa’: 84)
Sesungguhnya umat Islam pada hari ini, atas kurnia Allah SWT, mempunyai kekuatan yang sangat besar yang cukup untuk menyelamatkan Palestin dan menyelamatkan negeri-negeri umat Islam yang lain. Akan tetapi kekuatan ini terbelenggu, maka kita harus berusaha untuk melepaskannya. Selain itu, sebenarnya umat ini telah mendapat janji kemenangan, sehingga jika kemenangan itu tertunda maka hal itu disebabkan oleh dosa-dosa kita dan berlepas tangannya kita dari membela Allah SWT. Allah SWT berfirman:
"… jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7)
Bahkan umat ini juga dijanjikan kemenangan atas orang-orang Yahudi, sebagaimana sabda Rasulullah sollallohu ‘alai wa sallam:
"Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi orang-orang yahudi, lalu kaum musliminpun membunuh mereka, sehingga ada seorang yahudi yang bersembunyi di sebalik batu dan pohon, lalu batu atau pohon itu berkata: 'wahai orang Islam, wahai hamba Allah ini orang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, sesungguhnya ghorqod itu pohon orang-orang yahudi." (HR. Muslim)
Maka di dalam hadis ini juga terdapat peringatan bahawasanya pertarungan yang menentukan dengan musuh itu, terjadi dengan cara pembunuhan dan peperangan, bukan dengan cara membuang-buang kekuatan umat selama puluhan tahun, dengan melalui jalan lain, seperti tipu daya demokrasi dan yang lainnya.
Gelombang Tsunami Revolusi Menghentam Kekuasaan Para Diktaktor
Kini, setelah 88 tahun berlalu, gaung kebangkitan Islam yang sejak lama diperjuangkan mulai menampakkan hasilnya. Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia melihat secercah harapan kembalinya kejayaan dan keberkahan hidup di bawah naungan syariat Islam di bawah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah.
Nubuwwah dari Rasulullah SAW., yang memberitakan akan berakhirnya masa kepemimpinan para diktaktor yang kejam dan bengis dan menjadi awal kemunculan sistem Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian mulai terlihat tanda-tandanya.
"Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Kerajaan yang Diwariskan (MULKAN ADDHON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Pemerintahan Diktaktor yang bengis (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)". Kemudian beliau (Nabi) diam." (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273)
Syekh Hasan Umar hafizhahullah dalam artikelnya yang berjudul “Ruha al-Islam Dairah” (Roda Islam terus berputar) menjelaskan fasa-fasa dari Nubuwwah Rasulullah SAW., secara panjang lebar dan terperinci.
“Nabi SAW., memberitahukan, pada saat itu masa kenabian, bahawa masa kenabian beliau akan berlangsung di tengah umatnya ini sampai masa beliau wafat. Setelah itu datang masa khilafah rasyidah yang akan bertahan di tengah umat ini selama masa waktu tertentu. Kemudian Allah SWT., akan mengangkat masa tersebut.
Hal itu ternyata benar-benar terjadi. Kemudian muncul masa raja ‘adhun, yaitu kerajaan yang diwariskan. Masa tersebut terjadi sejak era Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, saat ia mengambil baiat untuk anaknya Yazid bin Mu’awiyah padahal saat itu Mu’awiyah masih hidup. Kerajaan yang diwariskan menjadi milik Bani Umayyah, lalu menjadi milik daulah Abbasiyah sampai selesai, kemudian daulah Mamluk, dan daulah Utsmaniyah. Daulah Utsmaniyah kemudian berakhir di tangan seorang sekuleris militeris, Musthafa Kamal Attaturk. Negara-negara Eropah berperanan besar dalam menjatuhkan daulah Utsmaniyah, sehingga khilafah Utsmaniyah runtuh pada bulan Mac 1924 M.
Era kerajaan yang diwariskan (monarki) telah berakhir, digantikan oleh pemerintahan militer atas negeri-negeri Islam pada abad 20 M. Bahkan, sekalipun pihak militer yang tidak naik ke kerusi kekuasaan, namun sisa-sisa kerajaan yang diwariskan seperti Arab Saudi, Jordan, dan Maghribi mempergunakan bantuan kekuatan militer yang besar, dengan peralatan dan persenjataan moden untuk memberangus pihak oposisi dan siapa pun yang membenci penguasa tersebut. Pemerintahan tersebut secara realitinya adalah pemerintahan diktator, walaupun pada nama masih berupa kerajaan yang diwariskan.
Kekuasaan sepenuhnya digenggam oleh pemerintahan-pemerintahan diktator tersebut dengan banyak metode. Metode yang paling penting adalah: - pasukan keamanan yang kuat yang menjaganya, memberangus para oposisi, mempergunakan media massa dan para jurnalis untuk ‘mencetak’ (membentuk) akal pemikiran rakyat sesuai kehendak para penguasa, suatu cara yang boleh disebut ‘operasi pencucian otak’. Mereka memenuhi otak rakyat dengan pemikiran-pemikiran yang mendukung para penguasa atau melalaikan rakyat dari dien Allah dan problematika-problematika umat yang paling menentukan nasib mereka, iaitu media massa memberikan ruang yang sangat besar untuk aspek seni, olahraga, lagu-lagu (muzik), lawakan, dan sebagainya.
Para tokoh agama yang berubah menjadi para pegawai pemerintahan. Ketika melihat kemungkaran, mereka memegang prinsip: ‘Saya tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengatakan’. Mereka berperanan seperti para pendeta yang menganggap suci para penguasa, bukan berperanan sebagai tokoh iman yang mengingkari kemungkaran penguasa dan meluruskan kekeliruannya, bukan pula berperanan sebagai pemimpin umat yang mengembalikan hak-hak umat yang hilang.
Di antara metode terpenting para penguasa diktator tersebut adalah mengikuti kemahuan Barat di bidang politik dan militer, dengan mencampakkan persoalan Palestin dari realiti perjuangan, kerana mereka semua sibuk menjalin perdamaian dengan Israel.
Maka kekuatan militer Amerika diundang bercokol di Kuwait, Teluk, dan Arab Saudi. Sikap politik negara-negara kawasan Teluk berada di bawah payung politik Amerika. Amerika bahkan melakukan campurtangan sangat dalam, sampai taraf menentukan para penguasa di beberapa negeri Islam. Para penguasa tersebut meminta bantuan kekuatan adidaya (salibis Amerika dan Eropah) ini dan mereka menindas rakyat mereka sendiri. Maka mereka layak menyandang nama ‘Pemerintahan Diktator’.
Kini nasib para pemerintahan diktator ini mulai goyang dan hendak roboh, dengan dimulainya revolusi rakyat di Tunisia, lalu di Mesir, lalu demonstrasi-demonstrasi dan pertembungan terjadi di Yaman, Libya, dan lain-lain. Semuanya terjadi secara berturutan, dengan kecepatan yang mengagumkan. Semuanya memiliki kemiripan dan beraksi secara cepat.
Kita tidak melihat ada penafsiran atas berbagai kejadian ini yang lebih jujur dari penafsiran Nabi SAW, yang telah memberitahukan kepada kita bahawa pemerintahan diktator akan menguasai umat ini selama masa yang Allah kehendaki. Allah kemudian akan mengangkatnya jika Allah telah menghendakinya.”
88 Tahun Tanpa Khilafah : From Imarah To Khilafah
Kini kita melihat dengan jelas permulaan hilangnya pemerintahan diktator, dan dengan izin Allah semua pemerintahan diktaktor tersebut akan lenyap. Jika pemerintahan diktator telah hilang, nescaya akan digantikan oleh fasa khilafah yang berjalan di atas minhaj (metode) kenabian, seperti yang telah diberitahukan oleh nabi Muhammad SAW.
Gelombang tsunami revolusi Islam yang awalnya muncul di Tunisia telah melanda Timur Tengah dan kini menghantam kekuasaan pemerintahan diktaktor. Keruntuhan rejim diktaktor Tunisia, disusul Mesir, Libya, dan kini Suriah menjadi tanda dan bukti benarnya berita kenabian Rasulullah SAW.
Sementara itu, fenomena kemunculan negara-negara Islam atau yang lebih dikenal dengan Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq menjadi penanda dan bukti yang menguatkan bahawa masa kedatangan Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian sudah semakin dekat. Ini kerana seluruh Imarah Islam yang ada bercita-cita mewujudkan Khilafah Islamiyah mengikuti metode kenabian.
Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq, dalam timbangan syarie masuk dalam kategori “Imarah Khas” atau Imarah Khusus, yakni sebuah kekuasaan spesifik (Khusus) dari sebuah kepemimpinan Islam atas wilayah yang khusus pula, di mana syariat Islam diterapkan di wilayah tersebut.
Imarah Khas (Imarah Khusus) ini suatu saat mampu berkembang dan akhirnya mampu bi idznillah untuk menegakkan “Imarah Aam” (Imarah Umum) atau yang kita kenal dengan nama Khilafah untuk seluruh kaum Muslimin di dunia yang akan mewujudkan ketenteraman, kesejahteraan, dan turunnya rahmat Allah SWT., tidak hanya kepada umat Islam, melainkan juga kepada umat non-Muslim, bahkan kepada seluruh alam semesta.
Di saat itulah Nubuwwah Rasulullah SAW., kembali terbukti, dengan munculnya masa atau fasa Khilafah ala Minhajin Nubuwah, yakni Khilafah yang mengikuti metode kenabian pasca runtuhnya pemerintahan diktaktor, dan diawali dengan kemunculan Imarah Islam. From Imarah To Khilafah, Insya Allah!
Wallahu’alam bis sowab!
Monday, 25 July 2011
PEMBINAAN UMAT : LANDASAN PERUBAHAN MASYARAKAT
Kemestian Pembinaan
Masyarakat merupakan kumpulan individu yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi di antara mereka diatur oleh satu peraturan (nizam)tertentu. Apabila masyarakat sekular yang menerapkan ideologi Kapitalisme hendak diubah menjadi masyarakat yang menerapkan Islam, maka harus ada perubahan unsur-unsur tersebut. Pemikiran yang berkaitan dengan keyakinan dan cara penyelesaian masalah di tengah-tengah masyarakat mesti diubah ke arah akidah dan syariat Islam. Emosi redha-benci dan senang-sedih mereka juga perlu diubah menjadi redha dan senang jika apa yang berlaku di dalam masyarakat sesuai dengan Islam; serta menjadi benci dan sedih bila tingkahlaku pemerintah dan masyarakat, serta peraturan yang diterapkannya bukan berasal dari Islam.
Jika keinginan majoriti atau kehendak dominan yang ada di tengah masyarakat mahukan perubahan ke arah Islam, maka saat itulah perubahan akan terjadi; rakyat mahukan penerapan Islam, menjadikan orang-orang yang membela Islam sebagai pemimpinnya, dan peraturan Islam pun ditegakkan.
Bagaimana mewujudkan pemikiran dan perasaan yang sama bahawa peraturan Islam merupakan satu-satunya solusi bagi seluruh masalah kehidupan? Jawapannya hanya satu: pembinaan (tasqif).
Cuma realiti menunjukkan bahawa masyarakat berbeza-beza sikapnya terhadap perubahan. Ada masyarakat yang memiliki idealisme tinggi, tahu visi dan misi, serta memahami bagaimana cara melakukan perubahan dari kehidupan jahiliah kepada kehidupan Islami. golongan ini bersedia untuk mengorbankan waktu, tenaga, dana, bahkan jiwanya demi menegakkan Islam. Merekalah massa berkualiti. Orang-orang yang memiliki karakter sedemikian perlu dibina dan diarah untuk menjadi golongan massa berkualiti ini. Caranya: mereka dibina secara intensif dalam pembinaan kader (tasqif murakkaz).
(Seminar: satu bentuk tasqif jama'ie)
Tidak semua orang dapat dibina secara intensif. Kita perlu sedar bahawa ada orang yang masanya amat terbatas, tidak dapat mengikuti aktiviti pembinaan intensif dan tetap. Bahkan ada juga golongan masyarakat yang tidak peduli terhadap sebarang perubahan. Prinsip yang dipegangnya: 'yang penting aman, usaha lancar, dan anak-anak dapat sekolah'. Orang-orang sedemikian tidak dapat dipaksa menjadi penggerak perubahan. Namun mereka harus tetap menjadi pendukung perubahan. Setidak-tidaknya, jangan sampai mereka menjadi penghalang perubahan. Oleh itu, pembinaan tetap harus diberikan kepada golongan ini; bukan secara intensif, tetapi pembinaan secara umum. Inilah pembinaan umum (tasqif jama'ie).
Kesimpulannya, jelaslah bahawa realiti memestikan adanya pembinaan intensif dan pembinaan umum dalam melakukan perubahan dari masyarakat sekular menjadi masyarakat Islam.
Pembinaan Nabi saw.
Nabi merupakan contoh terbaik dalam melakukan pembinaan untuk mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Sejak baginda diutus menjadi rasul, baginda segera menyeru dan menyampaikan wahyu yang diterimanya. Didakwahnya isteri baginda, Khadijah, lalu isterinya beriman. Baginda juga berdakwah kepada anak saudaranya, Saidina Ali, maulanya Zaid bin Harithah, dan teman rapatnya Abu Bakar.
Baginda terus-menerus menyeru Islam. Di antara manusia ada yang beriman, ada pula yang kafir. Orang-orang yang beriman secara berterusan dibina oleh Nabi. Di antaranya pembinaan intensif di rumah Arqam bin Abi Arqam. Al-Quran dibacakan kepada mereka, jiwa-jiwa mereka dibentuk hingga menjadi suci, Al-Quran dan As-Sunnah pun ditanamkan dalam diri mereka. Baginda membina mereka, solat bersama mereka, bertahajjud di malam hari, dan para sahabat pun mencontohinya. Ruhiah mereka dipenuhi dengan solat dan bacaan Al-Quran. Kajian terhadap Al-Quran dan renungan terhadap makhluk-makhluk Allah mempengaruhi fikiran mereka. Baginda membentuk akal para sahabat dengan makna Al-Quran dan lafaznya, serta pemahaman Islam dan pemikirannya. Baginda mencetak mereka menjadi orang-orang yang sabar dan taat dalam keikhlasan total kepada Allah, Zat Yang Mahaperkasa. Allah SWT dengan indah mengabadikan hal ini:
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajar kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah (Sunnah). Sesungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al-Jumuah:2)
Para sahabat yang dibina oleh Rasulullah saw tidak terhenti setakat kesolehan individu. Sebaliknya mereka juga membangunkan sebuah kelompok dakwah di bawah pimpinan Nabi. Kemudian, seperti disebut dalam surah Al-Maidah, ayat 56, mereka digelarkan oleh Al-Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) sebagai hizbullah (parti Allah); mereka melakukan dakwah, menyedarkan masyarakat, dan membinanya.
Abu Bakar misalnya, berdakwah kepada rakan bisnesnya, jirannya, dan masyarakat sekitarnya. Melalui beliaulah beriman Uthman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Nabi mengutus individu tertentu untuk membina mereka. Khabab bin Arath misalnya, ditugaskan oleh Rasulullah untuk membina Zainab binti Khattab bersama suaminya, Said. Malahan, lama sebelum baginda berhijrah, baginda mengutus Mus'ab bin Umair untuk membina masyarakat di Madinah.
Nabi bukan hanya melakukan pembinaan intensif. Baginda juga melakukan pembinaan umum bagi masyarakat. Buku-buku sirah menuliskan bahawa Rasulullah saw pernah menjamu-makan keluarganya. Di situ baginda menyampaikan Islam, dan mengajak mereka beriman kepada Allah SWT dan RasulNya.
Rasulullah saw juga pernah mengumpulkan masyarakat Arab dari pelbagai golongan di Bukit Sofa. Maka hadirlah masyarakat Banu Abdul Muttalib, Banu Abdil Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu Asad. Di sana baginda menyampaikan Islam.
Arah Pembinaan
Apabila kita mengkaji aktiviti Nabi dalam membina masyarakat, kita mendapati pembinaan yang baginda lakukan bukanlah sembarangan, bukan merupakan pembinaan yang berbentuk sekadar pemindahan ilmu atau kemahiran, dan bukan pula pembinaan untuk sekadar melepaskan kewajipan. Pembinaan yang dimaksudkan adalah pemindahan saqafah (tasqif). Perubahan yang mesti terjadi adalah perubahan sikap dan tingkahlaku.
Pembinaan intensif (tasqif murakkaz) merupakan pembinaan untuk mencetak kader dakwah. Orang-orang yang dibina secara intensif sudah sewajarnya faham bahawa proses pembinaan tersebut ditujukan untuk memahami Islam yang akan diterapkan dan dibawa di tengah-tengah masyarakat. Pembinaan intensif diarahkan untuk membentuk keperibadian Islam (syakhsiyah islamiyyah) para kader dakwah. Di sana mereka dibina pola berfikirnya menjadi pola fikir islami (aqliyyah islamiyyah) dengan kajian dan pengisian pemahaman; pola jiwanya juga dibina menjadi pola jiwa islami (nafsiyah islamiyyah) melalui keyakinan terhadap idea-idea Islam yang dikaji serta pengamalannya. Oleh itu, pembinaan tersebut dilandaskan kepada:
1. Metode fikriyyah. Ertinya, pemikiran Islam disampaikan dengan disertai dalil dan cara mengeluarkan maknanya (istinbath), atau dengan faktanya yang berkaitan dengan realiti. Dengan cara demikian, para kader benar-benar memahami apa yang dikaji.
2. Landasan iman. Ertinya, pemikiran Islam (baik akidah mahupun syariatnya) yang sedang dikaji diyakini sebagai pedoman hidup, diyakini berasal dari Allah SWT yang bersumber dari wahyu. Pembinaan intensif bukan sekadar untuk kepuasan intelektual semata-mata.
3. Amal. Ertinya, apa yang telah diketahui diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hukum syariat yang dipelajari dan belum dapat diterapkan harus diperjuangkan untuk dapat diterapkan.
4. Dakwah. Ertinya, pemahaman yang telah dipelajari bukanlah untuk diri sendiri, tetapi untuk disebarkan kepada masyarakat.
Dengan pembinaan intensif seperti ini akan muncul kader-kader dakwah yang rajin beribadah di masjid (ahlul mihrab) yang sekaligus merupakan pahlawan di medan jihad (bathalul jihad), pejuang (mujahid) dan ahli ibadah (a'bid). Mereka menyatu dalam kelompok dakwah dengan sepenuhnya. Para kader inilah yang akan berjuang menyatukan Islam dengan umat di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai pembinaan, baik secara intensif mahupun secara umum.
Masyarakat merupakan kumpulan individu yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi di antara mereka diatur oleh satu peraturan (nizam)tertentu. Apabila masyarakat sekular yang menerapkan ideologi Kapitalisme hendak diubah menjadi masyarakat yang menerapkan Islam, maka harus ada perubahan unsur-unsur tersebut. Pemikiran yang berkaitan dengan keyakinan dan cara penyelesaian masalah di tengah-tengah masyarakat mesti diubah ke arah akidah dan syariat Islam. Emosi redha-benci dan senang-sedih mereka juga perlu diubah menjadi redha dan senang jika apa yang berlaku di dalam masyarakat sesuai dengan Islam; serta menjadi benci dan sedih bila tingkahlaku pemerintah dan masyarakat, serta peraturan yang diterapkannya bukan berasal dari Islam.
Jika keinginan majoriti atau kehendak dominan yang ada di tengah masyarakat mahukan perubahan ke arah Islam, maka saat itulah perubahan akan terjadi; rakyat mahukan penerapan Islam, menjadikan orang-orang yang membela Islam sebagai pemimpinnya, dan peraturan Islam pun ditegakkan.
Bagaimana mewujudkan pemikiran dan perasaan yang sama bahawa peraturan Islam merupakan satu-satunya solusi bagi seluruh masalah kehidupan? Jawapannya hanya satu: pembinaan (tasqif).
Cuma realiti menunjukkan bahawa masyarakat berbeza-beza sikapnya terhadap perubahan. Ada masyarakat yang memiliki idealisme tinggi, tahu visi dan misi, serta memahami bagaimana cara melakukan perubahan dari kehidupan jahiliah kepada kehidupan Islami. golongan ini bersedia untuk mengorbankan waktu, tenaga, dana, bahkan jiwanya demi menegakkan Islam. Merekalah massa berkualiti. Orang-orang yang memiliki karakter sedemikian perlu dibina dan diarah untuk menjadi golongan massa berkualiti ini. Caranya: mereka dibina secara intensif dalam pembinaan kader (tasqif murakkaz).
(Seminar: satu bentuk tasqif jama'ie)
Tidak semua orang dapat dibina secara intensif. Kita perlu sedar bahawa ada orang yang masanya amat terbatas, tidak dapat mengikuti aktiviti pembinaan intensif dan tetap. Bahkan ada juga golongan masyarakat yang tidak peduli terhadap sebarang perubahan. Prinsip yang dipegangnya: 'yang penting aman, usaha lancar, dan anak-anak dapat sekolah'. Orang-orang sedemikian tidak dapat dipaksa menjadi penggerak perubahan. Namun mereka harus tetap menjadi pendukung perubahan. Setidak-tidaknya, jangan sampai mereka menjadi penghalang perubahan. Oleh itu, pembinaan tetap harus diberikan kepada golongan ini; bukan secara intensif, tetapi pembinaan secara umum. Inilah pembinaan umum (tasqif jama'ie).
Kesimpulannya, jelaslah bahawa realiti memestikan adanya pembinaan intensif dan pembinaan umum dalam melakukan perubahan dari masyarakat sekular menjadi masyarakat Islam.
Pembinaan Nabi saw.
Nabi merupakan contoh terbaik dalam melakukan pembinaan untuk mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Sejak baginda diutus menjadi rasul, baginda segera menyeru dan menyampaikan wahyu yang diterimanya. Didakwahnya isteri baginda, Khadijah, lalu isterinya beriman. Baginda juga berdakwah kepada anak saudaranya, Saidina Ali, maulanya Zaid bin Harithah, dan teman rapatnya Abu Bakar.
Baginda terus-menerus menyeru Islam. Di antara manusia ada yang beriman, ada pula yang kafir. Orang-orang yang beriman secara berterusan dibina oleh Nabi. Di antaranya pembinaan intensif di rumah Arqam bin Abi Arqam. Al-Quran dibacakan kepada mereka, jiwa-jiwa mereka dibentuk hingga menjadi suci, Al-Quran dan As-Sunnah pun ditanamkan dalam diri mereka. Baginda membina mereka, solat bersama mereka, bertahajjud di malam hari, dan para sahabat pun mencontohinya. Ruhiah mereka dipenuhi dengan solat dan bacaan Al-Quran. Kajian terhadap Al-Quran dan renungan terhadap makhluk-makhluk Allah mempengaruhi fikiran mereka. Baginda membentuk akal para sahabat dengan makna Al-Quran dan lafaznya, serta pemahaman Islam dan pemikirannya. Baginda mencetak mereka menjadi orang-orang yang sabar dan taat dalam keikhlasan total kepada Allah, Zat Yang Mahaperkasa. Allah SWT dengan indah mengabadikan hal ini:
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajar kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah (Sunnah). Sesungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Al-Jumuah:2)
Para sahabat yang dibina oleh Rasulullah saw tidak terhenti setakat kesolehan individu. Sebaliknya mereka juga membangunkan sebuah kelompok dakwah di bawah pimpinan Nabi. Kemudian, seperti disebut dalam surah Al-Maidah, ayat 56, mereka digelarkan oleh Al-Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) sebagai hizbullah (parti Allah); mereka melakukan dakwah, menyedarkan masyarakat, dan membinanya.
Abu Bakar misalnya, berdakwah kepada rakan bisnesnya, jirannya, dan masyarakat sekitarnya. Melalui beliaulah beriman Uthman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Nabi mengutus individu tertentu untuk membina mereka. Khabab bin Arath misalnya, ditugaskan oleh Rasulullah untuk membina Zainab binti Khattab bersama suaminya, Said. Malahan, lama sebelum baginda berhijrah, baginda mengutus Mus'ab bin Umair untuk membina masyarakat di Madinah.
Nabi bukan hanya melakukan pembinaan intensif. Baginda juga melakukan pembinaan umum bagi masyarakat. Buku-buku sirah menuliskan bahawa Rasulullah saw pernah menjamu-makan keluarganya. Di situ baginda menyampaikan Islam, dan mengajak mereka beriman kepada Allah SWT dan RasulNya.
Rasulullah saw juga pernah mengumpulkan masyarakat Arab dari pelbagai golongan di Bukit Sofa. Maka hadirlah masyarakat Banu Abdul Muttalib, Banu Abdil Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu Asad. Di sana baginda menyampaikan Islam.
Arah Pembinaan
Apabila kita mengkaji aktiviti Nabi dalam membina masyarakat, kita mendapati pembinaan yang baginda lakukan bukanlah sembarangan, bukan merupakan pembinaan yang berbentuk sekadar pemindahan ilmu atau kemahiran, dan bukan pula pembinaan untuk sekadar melepaskan kewajipan. Pembinaan yang dimaksudkan adalah pemindahan saqafah (tasqif). Perubahan yang mesti terjadi adalah perubahan sikap dan tingkahlaku.
Pembinaan intensif (tasqif murakkaz) merupakan pembinaan untuk mencetak kader dakwah. Orang-orang yang dibina secara intensif sudah sewajarnya faham bahawa proses pembinaan tersebut ditujukan untuk memahami Islam yang akan diterapkan dan dibawa di tengah-tengah masyarakat. Pembinaan intensif diarahkan untuk membentuk keperibadian Islam (syakhsiyah islamiyyah) para kader dakwah. Di sana mereka dibina pola berfikirnya menjadi pola fikir islami (aqliyyah islamiyyah) dengan kajian dan pengisian pemahaman; pola jiwanya juga dibina menjadi pola jiwa islami (nafsiyah islamiyyah) melalui keyakinan terhadap idea-idea Islam yang dikaji serta pengamalannya. Oleh itu, pembinaan tersebut dilandaskan kepada:
1. Metode fikriyyah. Ertinya, pemikiran Islam disampaikan dengan disertai dalil dan cara mengeluarkan maknanya (istinbath), atau dengan faktanya yang berkaitan dengan realiti. Dengan cara demikian, para kader benar-benar memahami apa yang dikaji.
2. Landasan iman. Ertinya, pemikiran Islam (baik akidah mahupun syariatnya) yang sedang dikaji diyakini sebagai pedoman hidup, diyakini berasal dari Allah SWT yang bersumber dari wahyu. Pembinaan intensif bukan sekadar untuk kepuasan intelektual semata-mata.
3. Amal. Ertinya, apa yang telah diketahui diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hukum syariat yang dipelajari dan belum dapat diterapkan harus diperjuangkan untuk dapat diterapkan.
4. Dakwah. Ertinya, pemahaman yang telah dipelajari bukanlah untuk diri sendiri, tetapi untuk disebarkan kepada masyarakat.
Dengan pembinaan intensif seperti ini akan muncul kader-kader dakwah yang rajin beribadah di masjid (ahlul mihrab) yang sekaligus merupakan pahlawan di medan jihad (bathalul jihad), pejuang (mujahid) dan ahli ibadah (a'bid). Mereka menyatu dalam kelompok dakwah dengan sepenuhnya. Para kader inilah yang akan berjuang menyatukan Islam dengan umat di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai pembinaan, baik secara intensif mahupun secara umum.
Sunday, 12 June 2011
MEMBAWA DAKWAH: TUGAS UTAMA NEGARA ISLAM (DAULAH ISLAM)
Negara Islam (Khilafah), atau disebut juga dengan Imamah, adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan membawa risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (An-Nabhani, Nidzamul Hukm fil Islam, muka 34).
Berdasarkan definasi di atas,Negara Islam (Khilafah) merupakan institusi eksekutif politik (kiyan siyasi tanfizi) yang mempunyai dua tugas utama. Pertama: Menegakkan dan menerapkan hukum-hukum syariah di dalam negeri. Kedua: membawa risalah Islam ke seluruh penjuru dunia menerusi dakwah dan jihad.
Imam Taqiuddin An-Nabhani menggariskan dalam bukunya 'Masyru' Dustur' berkenaan tugas kedua Negara Khilafah iaitu fasal 11: "Membawa dakwah Islam adalah tugas utama negara" (muka 45).
Pengertian Dakwah
Dakwah berasal daripada bahasa Arab, ad-da'wah yang ertinya adalah menyeru, mengajak,mengundang dan memanggil dengan makna menyampaikan sesuatu kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Secara istilah, dakwah adalah satu strategi menyampaikan nilai-nilai Islam kepada umat manusia demi mewujudkan peraturan hidup yang berlandaskan iman dan realiti hidup yang islami (Psikologi Dakwah,muka 29).
Ahmad Mahmud (1995:23) mendefinasikan dakwah sebagai sebuah aktiviti untuk menjadikan seseorang cenderung dan senang hati. Jadi, berdakwah kepada Islam ertinya berusaha menjadikan orang yang didakwah cenderung dan merasa senang dengan Islam.
Oleh itu, dakwah Islam tidak cukup hanya dengan perkataan sahaja, namun harus meliputi apa sahaja yang dapat menjadikan seseorang cenderung dan senang, iaitu perkataan dan sekaligus perbuatan. Di dalam membawa dakwah Islam harus dilakukan dengan menggunakan dua bahasa sekaligus, iaitu bahasa perkataan (lisan al-maqal) dan bahasa tindakan (lisan al-hal). Allah berfirman:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fussilat:33).
Ertinya, semasa seseorang menyeru kepada Allah, yakni menyeru kepada syariah Allah, maka dia harus menjadi contoh atas apa yang dia serukan, supaya dapat memberi manfaat pada diri sendiri dan sekaligus pada orang lain (Ibnu Katsir, Tafsir Quran al-Azim). Malah dengan pemberian contoh ini akan memperjelaskan hakikat ajaran atau konsep Islam yang dia serukan agar seseorang menjadi cenderung dan senang (Mahmud, Da'wah ilal Islam, muka 23).
Kewajipan Membawa Dakwah
Dakwah sebagaimana definasi di atas, adalah sebuah aktiviti untuk menjadikan seseorang cenderung dan senang. Setiap orang yang berakal tentu bersetuju bahawa sebaik mana pun objek/bahan dakwah, namun jika tidak pernah dipromosikan, maka tidak ada orang yang akan mengenalinya, apalagi cenderung dan senang padanya.
Begitulah dengan Islam. Sebab, tidak dapat dibayangkan ada orang akan mengenali Islam, tanpa ada dakwah untuk memperkenalkannya. Tidak dapat dibayangkan Islam akan memiliki pengaruh, tanpa ada dakwah untuk mewujudkannya. Tidak dapat dibayangkan Islam akan tegak tanpa ada dakwah untuk menegakkannya. Akhir sekali, tidak dapat dibayangkan Islam akan tersebar dengan kuat, tanpa ada dakwah untuk menyebarkannya.
Ketika aktiviti dakwah tidak ada, maka Islam tidak akan kuat, tersebar dan terpelihara, serta tidak akan tegak hujjah atas makhluk-Nya. Sebaliknya dengan dakwah, Islam akan kembali kuat dan kembali wujud kemuliaannya; dan dengan dakwah pula, Islam akan tersebar di tengah-tengah seluruh umat manusia, sehingga agama itu semata-mata hanya untuk Allah, dan aturan kehidupan dunia tidak rosak seperti sekarang ini (Da'wah ilal Islam, muka:24). Oleh itu, membawa dakwah merupakan satu kewajipan.
Apalagi tidak sedikit ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah saw yang menyatakan kewajpan membawa dakwah kepada Islam. Di antaranya firman Allah:
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebajikan, menyuruh kepada kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung" (Ali Imran:104)
Imam At-Tabari menjelaskan ayat ini: 'Hendaklah ada di antara kamu, wahai orang-orang Mukmin, segolongan umat yang menyeru manusia kepada kebajikan, yakni kepada Islam dan syariah-syariahnya' (At-Tabari, Jami'ul Bayan fi Ta'wil al-Qur'an).
Allah juga berfirman:
"Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)" (Al-An'am:19)
Ayat ini menjelaskan bahawa siapa sahaja yang telah sampai kepadanya Al-Quran, samada orang Arab, bukan Arab ataupun orang lain, berkewajipan untuk menyampaikannya kepada orang lain, dan kewajipan ini tetap berlaku sampai Hari Kiamat (Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi).
Rasulullah saw bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
"Allah menyinari seorang hamba yang mendengar perkataanku, lalu dia menghafal, memahami dan menyampaikannya. Tidak sedikit orang yang menyampaikan fikih itu adalah orang yang tidak faqih; tidak sedikit pula orang menyampaikan fikih kepada orang yang lebih faqih darinya". (asy-Syafie, Musnad asy-Syafie, muka 413)
Semua nas ini menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam adalah wajib. Kewajipan membawa dakwah Islam ini bersifat umum mencakupi seluruh kaum Muslimin dan termasuk juga Negara Islam (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, muka 46).
Membawa Dakwah: Tugas Utama Negara
Membawa dakwah Islam, di samping merupakan kewajipan kaum Muslimin, juga menjadi kewajipan negara. Membawa dakwah Islam adalah merupakan penerapan syariah dalam hubungan luar negara. Bahkan ia merupakan salah satu hukum syariah yang wajib diterapkan oleh negara sebagaimana syariah wajib diterapkan oleh individu. Bezanya, membawa dakwah Islam bagi negara merupakan dasar yang menjadi asas dalam melakukan hubungan dengan negara-negara lain. Ertinya, membawa dakwah Islam merupakan dasar bagi setiap aktiviti yang berkaitan dengan politik luar negara Negara Islam (Khilafah). Dengan demikian, membawa dakwah Islam merupakan tugas utama Negara Islam (Muqaddimah ad-Dustur, muka 45).
Dalil bahawa membawa dakwah Islam merupakan kewajipan dan tugas utama negara adalah sabda Rasulullah saw:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahawa tidak ada Tuhan - yang berhak disembah - selain Allah serta mereka beriman kepadaku dan syariah yang aku bawa. Apabila mereka telah melakukannya maka darah dan harta mereka terpelihara di sisiku, kecuali dengan haknya, sementara hisab mereka terserah kepada Allah". (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan dalil kewajipan membawa dakwah Islam bagi negara. Membawa dakwah dalam perkara ini adalah jihad yang akan berlangsung sepanjang zaman hingga umat Muhammad yang terakhir memerangi Dajjal. Rasulullah saw bersabda:
والجهاد ماض منذ بعثنى الله عزوجل إلى ان يقاتل آخر امتى الدجال لا يبطله جور جائر ولا عدل عادل
"Jihad itu tetap berlangsung sejak Allah SWT mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal. Kewajipan jihad ini tidak akan gugur oleh kezaliman pemimpin yang zalim, dan tidak pula oleh keadilan pemimpin yang adil". (HR Abu Daud)
Kedua hadis ini menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam merupakan aktiviti yang berlangsung terus-menerus tanpa terputus, baik bersama pemimpin yang adil mahupun bersama pemimpin yang zalim selama dia masih seorang Muslim. Sebab, membawa dakwah Islam merupakan tugas utama negara sehingga dalam keadaan apa sekalipun negara harus terus-menerus melakukannya.
Rasulullah saw sejak wujud kestabilan di Madinah, iaitu wujud kestabilan dalam negeri serta terpelihara, baginda terus-menerus melakukan jihad, mengirimkan para utusan kepada para penguasa negara lain, dan mengadakan berbagai perjanjian. Semua ini baginda lakukan dalam rangka menyampaikan Islam dan membawa dakwah Islam kepada manusia. Ini diceritakan dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik ra:
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
"Nabi Muhammad saw menulis surat kepada Kisra (pemerintah Parsi), Kaisar (pemerintah Romawi), Najasyi dan kepada setiap pemimpin besar, untuk menyeru mereka semua kepada Allah SWT".
Begitu juga dengan Khulafa'ur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Mereka sentiasa melakukan aktiviti yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw selama baginda menjadi ketua negara. Dengan demikian, dalil yang menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam merupakan tugas utama negara, adalah sunnah Rasulullah saw dan Ijmak Sahabat (Muqaddimah Dustur, muka 47).
Berkaitan tugas utama negara yang kedua ini, Imam Taqiuddin Abu Bakar di dalam kitabnya Kifayatul Akhyar menyatakan: "Bahawa negara dianjurkan untuk memperbanyakkan operasi jihad, kerana banyak ayat Quran dan hadis berkaitannya. Paling minima negara wajib melakukan sekali jihad dalam setahun. Sebab, sejak diutuskan, Rasulullah belum pernah meninggalkannya setiap tahun. Sedangkan meneladani Rasulullah saw itu hukumnya wajib".
Apabila negara bersungguh-sungguh dan serius dalam menjalankan tugas utamanya yang kedua ini, iaitu membawa dakwah Islam, maka seluruh dunia akan disinari cahaya Islam. Dengan ini impian wujudnya aturan kehidupan dunia yang penuh dengan kedamaian dan kasih sayang, bukan sekadar khayalan melainkan kenyataan. Persoalannya sekarang, sudah adakah negara yang akan menjalankan tugas ini? Jika belum maka kewajipan kita adalah segera mewujudkannya.
Berdasarkan definasi di atas,Negara Islam (Khilafah) merupakan institusi eksekutif politik (kiyan siyasi tanfizi) yang mempunyai dua tugas utama. Pertama: Menegakkan dan menerapkan hukum-hukum syariah di dalam negeri. Kedua: membawa risalah Islam ke seluruh penjuru dunia menerusi dakwah dan jihad.
Imam Taqiuddin An-Nabhani menggariskan dalam bukunya 'Masyru' Dustur' berkenaan tugas kedua Negara Khilafah iaitu fasal 11: "Membawa dakwah Islam adalah tugas utama negara" (muka 45).
Pengertian Dakwah
Dakwah berasal daripada bahasa Arab, ad-da'wah yang ertinya adalah menyeru, mengajak,mengundang dan memanggil dengan makna menyampaikan sesuatu kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Secara istilah, dakwah adalah satu strategi menyampaikan nilai-nilai Islam kepada umat manusia demi mewujudkan peraturan hidup yang berlandaskan iman dan realiti hidup yang islami (Psikologi Dakwah,muka 29).
Ahmad Mahmud (1995:23) mendefinasikan dakwah sebagai sebuah aktiviti untuk menjadikan seseorang cenderung dan senang hati. Jadi, berdakwah kepada Islam ertinya berusaha menjadikan orang yang didakwah cenderung dan merasa senang dengan Islam.
Oleh itu, dakwah Islam tidak cukup hanya dengan perkataan sahaja, namun harus meliputi apa sahaja yang dapat menjadikan seseorang cenderung dan senang, iaitu perkataan dan sekaligus perbuatan. Di dalam membawa dakwah Islam harus dilakukan dengan menggunakan dua bahasa sekaligus, iaitu bahasa perkataan (lisan al-maqal) dan bahasa tindakan (lisan al-hal). Allah berfirman:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fussilat:33).
Ertinya, semasa seseorang menyeru kepada Allah, yakni menyeru kepada syariah Allah, maka dia harus menjadi contoh atas apa yang dia serukan, supaya dapat memberi manfaat pada diri sendiri dan sekaligus pada orang lain (Ibnu Katsir, Tafsir Quran al-Azim). Malah dengan pemberian contoh ini akan memperjelaskan hakikat ajaran atau konsep Islam yang dia serukan agar seseorang menjadi cenderung dan senang (Mahmud, Da'wah ilal Islam, muka 23).
Kewajipan Membawa Dakwah
Dakwah sebagaimana definasi di atas, adalah sebuah aktiviti untuk menjadikan seseorang cenderung dan senang. Setiap orang yang berakal tentu bersetuju bahawa sebaik mana pun objek/bahan dakwah, namun jika tidak pernah dipromosikan, maka tidak ada orang yang akan mengenalinya, apalagi cenderung dan senang padanya.
Begitulah dengan Islam. Sebab, tidak dapat dibayangkan ada orang akan mengenali Islam, tanpa ada dakwah untuk memperkenalkannya. Tidak dapat dibayangkan Islam akan memiliki pengaruh, tanpa ada dakwah untuk mewujudkannya. Tidak dapat dibayangkan Islam akan tegak tanpa ada dakwah untuk menegakkannya. Akhir sekali, tidak dapat dibayangkan Islam akan tersebar dengan kuat, tanpa ada dakwah untuk menyebarkannya.
Ketika aktiviti dakwah tidak ada, maka Islam tidak akan kuat, tersebar dan terpelihara, serta tidak akan tegak hujjah atas makhluk-Nya. Sebaliknya dengan dakwah, Islam akan kembali kuat dan kembali wujud kemuliaannya; dan dengan dakwah pula, Islam akan tersebar di tengah-tengah seluruh umat manusia, sehingga agama itu semata-mata hanya untuk Allah, dan aturan kehidupan dunia tidak rosak seperti sekarang ini (Da'wah ilal Islam, muka:24). Oleh itu, membawa dakwah merupakan satu kewajipan.
Apalagi tidak sedikit ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah saw yang menyatakan kewajpan membawa dakwah kepada Islam. Di antaranya firman Allah:
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyerukan kebajikan, menyuruh kepada kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung" (Ali Imran:104)
Imam At-Tabari menjelaskan ayat ini: 'Hendaklah ada di antara kamu, wahai orang-orang Mukmin, segolongan umat yang menyeru manusia kepada kebajikan, yakni kepada Islam dan syariah-syariahnya' (At-Tabari, Jami'ul Bayan fi Ta'wil al-Qur'an).
Allah juga berfirman:
"Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)" (Al-An'am:19)
Ayat ini menjelaskan bahawa siapa sahaja yang telah sampai kepadanya Al-Quran, samada orang Arab, bukan Arab ataupun orang lain, berkewajipan untuk menyampaikannya kepada orang lain, dan kewajipan ini tetap berlaku sampai Hari Kiamat (Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi).
Rasulullah saw bersabda:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
"Allah menyinari seorang hamba yang mendengar perkataanku, lalu dia menghafal, memahami dan menyampaikannya. Tidak sedikit orang yang menyampaikan fikih itu adalah orang yang tidak faqih; tidak sedikit pula orang menyampaikan fikih kepada orang yang lebih faqih darinya". (asy-Syafie, Musnad asy-Syafie, muka 413)
Semua nas ini menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam adalah wajib. Kewajipan membawa dakwah Islam ini bersifat umum mencakupi seluruh kaum Muslimin dan termasuk juga Negara Islam (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, muka 46).
Membawa Dakwah: Tugas Utama Negara
Membawa dakwah Islam, di samping merupakan kewajipan kaum Muslimin, juga menjadi kewajipan negara. Membawa dakwah Islam adalah merupakan penerapan syariah dalam hubungan luar negara. Bahkan ia merupakan salah satu hukum syariah yang wajib diterapkan oleh negara sebagaimana syariah wajib diterapkan oleh individu. Bezanya, membawa dakwah Islam bagi negara merupakan dasar yang menjadi asas dalam melakukan hubungan dengan negara-negara lain. Ertinya, membawa dakwah Islam merupakan dasar bagi setiap aktiviti yang berkaitan dengan politik luar negara Negara Islam (Khilafah). Dengan demikian, membawa dakwah Islam merupakan tugas utama Negara Islam (Muqaddimah ad-Dustur, muka 45).
Dalil bahawa membawa dakwah Islam merupakan kewajipan dan tugas utama negara adalah sabda Rasulullah saw:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahawa tidak ada Tuhan - yang berhak disembah - selain Allah serta mereka beriman kepadaku dan syariah yang aku bawa. Apabila mereka telah melakukannya maka darah dan harta mereka terpelihara di sisiku, kecuali dengan haknya, sementara hisab mereka terserah kepada Allah". (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan dalil kewajipan membawa dakwah Islam bagi negara. Membawa dakwah dalam perkara ini adalah jihad yang akan berlangsung sepanjang zaman hingga umat Muhammad yang terakhir memerangi Dajjal. Rasulullah saw bersabda:
والجهاد ماض منذ بعثنى الله عزوجل إلى ان يقاتل آخر امتى الدجال لا يبطله جور جائر ولا عدل عادل
"Jihad itu tetap berlangsung sejak Allah SWT mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal. Kewajipan jihad ini tidak akan gugur oleh kezaliman pemimpin yang zalim, dan tidak pula oleh keadilan pemimpin yang adil". (HR Abu Daud)
Kedua hadis ini menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam merupakan aktiviti yang berlangsung terus-menerus tanpa terputus, baik bersama pemimpin yang adil mahupun bersama pemimpin yang zalim selama dia masih seorang Muslim. Sebab, membawa dakwah Islam merupakan tugas utama negara sehingga dalam keadaan apa sekalipun negara harus terus-menerus melakukannya.
Rasulullah saw sejak wujud kestabilan di Madinah, iaitu wujud kestabilan dalam negeri serta terpelihara, baginda terus-menerus melakukan jihad, mengirimkan para utusan kepada para penguasa negara lain, dan mengadakan berbagai perjanjian. Semua ini baginda lakukan dalam rangka menyampaikan Islam dan membawa dakwah Islam kepada manusia. Ini diceritakan dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik ra:
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
"Nabi Muhammad saw menulis surat kepada Kisra (pemerintah Parsi), Kaisar (pemerintah Romawi), Najasyi dan kepada setiap pemimpin besar, untuk menyeru mereka semua kepada Allah SWT".
Begitu juga dengan Khulafa'ur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Mereka sentiasa melakukan aktiviti yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw selama baginda menjadi ketua negara. Dengan demikian, dalil yang menunjukkan bahawa membawa dakwah Islam merupakan tugas utama negara, adalah sunnah Rasulullah saw dan Ijmak Sahabat (Muqaddimah Dustur, muka 47).
Berkaitan tugas utama negara yang kedua ini, Imam Taqiuddin Abu Bakar di dalam kitabnya Kifayatul Akhyar menyatakan: "Bahawa negara dianjurkan untuk memperbanyakkan operasi jihad, kerana banyak ayat Quran dan hadis berkaitannya. Paling minima negara wajib melakukan sekali jihad dalam setahun. Sebab, sejak diutuskan, Rasulullah belum pernah meninggalkannya setiap tahun. Sedangkan meneladani Rasulullah saw itu hukumnya wajib".
Apabila negara bersungguh-sungguh dan serius dalam menjalankan tugas utamanya yang kedua ini, iaitu membawa dakwah Islam, maka seluruh dunia akan disinari cahaya Islam. Dengan ini impian wujudnya aturan kehidupan dunia yang penuh dengan kedamaian dan kasih sayang, bukan sekadar khayalan melainkan kenyataan. Persoalannya sekarang, sudah adakah negara yang akan menjalankan tugas ini? Jika belum maka kewajipan kita adalah segera mewujudkannya.
Saturday, 11 June 2011
Makna Jihad Yang Disalahertikan
Terdapat satu bentuk konspirasi baru yang dicipta oleh musuh-musuh Islam, iaitu usaha meminggirkan dan menghilangkan makna serta pengaruh istilah-istilah Islam di kalangan masyarakat Islam. Salah satu istilah yang mereka berusaha mengeliru serta mengkaburkan adalah istilah jihad. Ini dilakukan bukan sahaja dengan mencipta stereotipe negatif tentang jihad, malah dilakukan juga dengan cara mengalihkan makna jihad secara syar'i ke pengertian jihad secara bahasa (lughawi) yang bersifat lebih umum.
Negara Barat seperti Amerika, sehingga kini masih giat membuat propaganda bahawa jihad sama dengan keganasan, mujahidin sama dengan teroris atau ekstremis yang harus dimusuhi, dilawan dan dibinasakan. Mereka bimbang dengan bangkitnya semangat masyarakat Islam melawan hegemoni sistem kufur yang dipelopori Amerika, golongan orientalis dan para pengikutnya. Mereka mengalihkan makna jihad kepada pengertian yang lebih luas, mencakupi jihad pembangunan, jihad menuntut ilmu, jihad mencari nafkah, jihad ekonomi, jihad politik dan seumpamanya. Semua itu mengelirukan makna jihad yang sebenar.
Jihad berasal dari kalimah jahada, yujahidu, jihad. Ertinya adalah saling mencurahkan tenaga. Imam An-Nisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan erti kalimah jihad - menurut bahasa : mencurahkan segenap tenaga untuk memperolehi maksud tertentu.
Makna jihad menurut bahasa adalah: kemampuan yang dicurahkan semaksima mungkin, kadang-kadang berbentuk aktiviti fizikal, samada menggunakan senjata ataupun tidak, kadang-kadang menggunakan harta benda dan kata-kata, dan kadang-kadang berbentuk dorongan sekuat tenaga untuk meraih matlamat tertentu, dan seumpamanya. Makna jihad secara bahasa ini bersifat umum, iaitu kerja keras.
Al-Quran juga telah menerangkan makna jihad pada pengertian yang lebih khusus iaitu: Mencurahkan seluruh tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung mahupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik dan lain-lain.
Pengertian seperti ini dapat dilihat pada perkataan jihad yang terdapat dalam ayat-ayat madaniyah. Maknanya berbeza dengan perkataan jihad yang terdapat dalam ayat-ayat makkiyyah. Perkataan jihad yang mengandungi makna bahasa dan bersifat umum terdapat dalam al-Quran pada surah al-Ankabut(29): 6 dan 8 serta Surah Luqman (31): 15.
Namun, tidak kurang dari 26 perkataan jihad digunakan dalam ayat-ayat madaniyyah, yang hampir kesemuanya menunjukkan makna perkataan jihad sebagai berperang menentang orang-orang kafir.
Jihad dengan makna mengerahkan seluruh kekuatan untuk berperang di jalan Allah digunakan oleh para fuqaha. Menurut mazhab Hanafi, jihad membawa maksud mencurahkan pengorbanan dan kekuatan untuk berjuang di jalan Allah,baik dengan jiwa, harta benda, lisan dan sebagainya. Manakala menurut mazhab Maliki, jihad bermaksud peperangan kaum Muslimin melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah hingga menjadi kalimat yang paling tinggi. Para ulama mazhab Syafi’i juga berpendapat bahawa jihad bererti berperang di jalan Allah.
Sekalipun perkataan jihad menurut bahasa bererti mencurahkan seluruh tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan perkataan tersebut dengan maksud tertentu, iaitu berperang di jalan Allah. Ertinya, penggunaan perkataan jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan jika diteliti dari aspek bahasa. Hal ini sesuai dengan kaedah yang sering digunakan oleh para ahli usul fiqh: “ Makna syar’ie lebih utama dibandingkan dengan makna bahasa mahupun makan istilah (urf).”
Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh Kaum Muslimin adalah berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah.
Pengaburan makna jihad dalam pengertian syariat ini, dengan cara mengalihkannya kepada pengertian yang lebih umum, seperti jihad pembangunan, menuntut ilmu, mencari nafkah, berfikir keras mencari penyelesaian, dan sejenisna yang dianggap sebagai aktiviti jihad, merupakan usaha untuk menghilangkan makna jihad dalam pengertian al-qital, al-harb atau al-ghazwu, iaitu berperang di jalan Allah.
Monday, 18 April 2011
OPTIMIS TERHADAP PENEGAKKAN KHILAFAH
Sikap yang Benar terhadap Khilafah Islamiyah
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menggariskan beberapa ketetapan utama berkaitan Khilafah Islamiyah.
1. Melantik seorang khalifah untuk memegang tampuk kekuasaan Khilafah Islamiyah adalah wajib (Imam al-Qurtubi, al-Jami lil Ahkamil Qur'an, 1/264-265; Imam Zakaria An-Nawawi, Syarhul Muslim, 8/291; dan lain-lain).
2. Melantik seorang khalifah setelah berakhirnya zaman nubuwwah adalah kewajipan paling penting (Imam al-Haisami, Sowa'iq al-Muhriqah,1/25).
3. Allah SWT telah menjanjikan Kekhalifahan kepada kaum mukmin sehingga akhir zaman (Imam asy-Syaukani, Fathul Qadir,7/241).
4. Menegakkan kekuasaan Islam (Khilafah Islamiyah) termasuk wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling agung (Imam Ibnu Taimiyyah, Siyasah as-Syar'iiyah, muka 161).
Dalam konteks 'menegakkan Khilafah Islamiyah' sebagai kewajipan syariah, sikap sejati seorang Mukmin adalah tunduk, patuh, dan berusaha menunaikan kewajipan tersebut dengan sebaik-baiknya. Seorang Mukmin dilarang mempersoalkan, meragui, menggugat atau mengelak dari kewajipan agung ini dengan alasan apa sekalipun. Sebab, kewajipan menegakkan Khilafah Islamiyah tidak ada bezanya dengan kewajipan-kewajipan lain seperti solat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Engkar tehadap kewajipan menegakkan Khilafah samalah dengan keengkaran terhadap kewajipan solat, zakat dan kewajipan-kewajipan syariat yang lain.
Dalam aspek janji Kekhilafahan kepada kaum mukmin, maka seorang Mukmin wajib meyakini sepenuhnya bahawa Allah SWT pasti akan menunaikan janji-janjiNya (Qur'an; 18:108; dan 73:18). Ini kerana percaya terhadap janji Allah merupakan sebahagian daripada Iman, dan siapa sahaja yang engkar atau ragu terhadap janji Allah SWT, maka keimanannya telah rosak.
Dalam konteks menegakkan Khilafah Islamiyah sebagai kewajipan paling penting dan wasilah paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka seorang Mukmin sepatutnya 'lebih memfokaskan diri' pada kewajipan ini dan menjadikannya persoalan utama. Sebab, Khilafah Islamiyah adalah satu-satunya thariqah syar'iyyah (metode syar'ie) untuk menerapkan Islam secara sempurna sekaligus membentuk kepimpinan kaum muslimin di seluruh dunia. Tanpa Khilafah Islamiyah, Islam tidak akan berjaya diterapkan secara sempurna; serta kaum muslimin tidak akan mampu memimpin dan mengatur dunia dengan syariah Islam.
Malangnya, sikap-sikap yang benar ini telah mula dilupakan oleh kaum muslimin. Puncanya adalah pelbagai, bermula dari ketiadaan kefahaman, kedangkalan berfikir, keimanan yang mulai merapuh sampailah kepada usaha-usaha penyesatan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.
Sikap Pesimis dan Putus Asa
Sikap putus asa ini tercermin pada keyakinan, sikap dan ucapan mereka yang menyatakan bahawa perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah adalah utopis. Akibatnya, mereka acuh tak acuh dan cenderung mencemoh perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Padahal,sikap putus asa dan mencemoh kewajipan yang ditetapkan oleh Allah termasuk perbuatan dosa dan mencerminkan kelemahan iman. Nabi saw bersabda:
وَثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ نَازَعَ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رِدَاءَهُ فَإِنَّ رِدَاءَهُ
الْكِبْرِيَاءُ وَإِزَارَهُ الْعِزَّةُ وَرَجُلٌ شَكَّ
فِي أَمْرِ اللَّهِ وَالْقَنُوطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
"Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya pada Hari Kiamat iaitu: manusia yang mencabut selendang Allah dan sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-izzah (keperkasaan); manusia yang meragui perintah Allah; dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah".
(HR Ahmad, Tabrani dan Al-Bazzar. Al-Haisami menyebut bahawa perawi thiqah. Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Al-Adab dan Ibnu Hibban dalam kitab Sahih-nya)
Menegakkan Khilafah Islamiyyah adalah satu kewajipan syariah. Sikap seorang Mukmin sejati ketika diperintahkan Allah dan RasulNya untuk melaksanakan sebuah kewajipan adalah : kami dengar dan taat; bukan sebaliknya meragui, mencemoh atau menganggapnya utopis. Sikap mencemoh dan menganggap utopis perintah menegakkan Khilafah merupakan satu bentuk keraguan terhadap perintah Allah.
Memang benar, menegakkan Khilafah Islamiyyah adalah satu aktiviti yang susah dan sukar. Namun adalah mengelirukan, jika seorang Muslim pesimis atau berputus asa untuk tegaknya Khilafah Islamiyyah, atau menyatakan bahawa perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyyah satu utopis atau khayalan. Ini kerana menegakkan Khilafah Islamiyyah adalah kewajipan syariah sekaligus janji Allah SWT atas kaum Mukmin.
Tidak Menggunakan Kekerasan
Sesungguhnya Islam telah menjelaskan metode syar'ie untuk menegakkan Daulah Islamiyyah secara terperinci. Metode ini merupakan hukum syariah yang mengikat kaum Muslimin hingga ke akhir zaman. Seorang muslim dituntut untuk sentiasa bersabar dan beristiqamah di atas manhaj itu.
Malangnya ramai pembawa dakwah Islam yang tidak sabar menempuh manhaj yang sangat terang itu. Dengan alasan terlalu panjang dan lama, akhirnya mereka meninggalkan manhaj yang sahih dan beralih ke jalan keganasan. Bahkan sebahagian kaum Muslimin meyakini bahawa mengangkat senjata dan jihad adalah thariqah syar'ieyyah untuk menegakkan Daulah Islam. Mereka beralasan bahawa dominasi dan pengaruh sistem kufur ke atas kaum Muslimin sangat kuat dan mencengkam seluruh sendi kehidupan. Sementara itu, perubahan dengan cara damai belum membuahkan hasil yang diinginkan. Organisasi dan gerakan Islam yang diharapkan mampu mengubah keadaan masyarakat dan negara pula memilih berkerjasama dan memperkuatkan pemerintahan kufur. Dalam keadaan seperti ini, sangat sukar mengharapkan perubahan dengan cara damai. Menurut mereka, jihad dan mengangkat senjata adalah pilihan yang paling masuk akal. Apalagi Nabi saw menetapkan jihad fisabililah sebagai amal yang paling utama setelah iman.
Memang benar, dakwah Islam belum membuahkan hasil yang memuaskan. Dominasi sistem kufur dan orang suruhannya hari demi hari dirasakan semakin kuat. Malah parti dan gerakan Islam berjaya diselewengkan oleh musuh-musuh Islam hingga melencong jauh dari tujuan dan arah dakwah Islam. Namun realiti seperti ini bukanlah dalil syar'ie dan sekali-kali tidak boleh dijadikan sebagai dalil untuk merumuskan hukum dakwah. Ini kerana realiti adalah manath al-hukm (objek hukum), bukan masdar al-hukm (sumber hukum). Hukum dakwah tidak boleh digali dari realiti, tetapi mesti di-istinbath (digali) dari dalil-dalil syarak iaitu Al-Quran dan Sirah Nabi saw.
Nabi saw tidak pernah menggunakan kekerasan untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Baginda dan para Sahabat juga tidak beralih ke jalan kekerasan ketika dominasi dan kooptasi kaum kafir Quraish semakin kukuh. Baginda memilih thalabun nusrah (meraih dukungan) sebagai metode untuk meraih kekuasaan Islam, dengan bertumpu pada aktiviti pembinaan kader dan berinteraksi dengan masyarakat. Baginda tetap bersabar dan konsisten menempuh manhaj tersebut hingga datang pertolongan Allah SWT. Sikap inilah yang harus dijadikan pegangan dan dalil untuk menetapkan hukum dakwah, bukan realiti yang sentiasa berubah-ubah.
Berkenaan dengan kewajipan mengangkat senjata dan jihad fisabililah pula, sesungguhnya tiada seorang pun meragui bahawa mengangkat senjata di hadapan penguasa dan jihad di jalan Allah adalah dua aktiviti yang disyariatkan dalam Islam. Cuma, dua aktiviti tersebut bukanlah thariqah yang ditetapkan Nabi saw untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Demikian juga mengangkat senjata terhadap penguasa yang terjatuh dalam kekufuran yang nyata adalah hukum syariah untuk menyelesaikan masalah penyimpangan penguasa, bukan thariqah untuk menegakkan Khilafah. Menjadikan dua aktiviti tersebut (jihad dan mengangkat senjata) sebagai thariqah untuk menegakkan Daulah Islamiyah jelas merupakan tindakan meletakkan hukum syariah bukan pada tempatnya yang sebenar.
Tidak Menumpukan Pada Persoalan Cabang
Salah satu cara yang digunakan oleh musuh Islam untuk menghalang kebangkitan kaum Muslimin adalah: mengalihkan perjuangan gerakan Islam dari dakwah menegakkan syariah Islam secara menyeluruh melalui penegakan kembali Daulah Islamiyah kepada dakwah yang menumpu hanya untuk memperbaiki masalah cabang. Cara seperti ini dikenali dengan strategi Pengalihan dan biasa digunakan oleh musuh-musuh Islam serta kaum Muslimin.
Usaha mengalihkan gerakan dakwah Islam ke persoalan-persoalan cabang dilakukan dengan berbagai cara. Di antara propaganda mereka:
1. Dakwah yang ditujukan untuk menegak Khilafah Islamiyah tidak memberikan hasil yang nampak di tengah-tengah masyarakat.
2. Umat memerlukan solusi yang kongkret ke atas masalah seharian, bukan propaganda semata-mata.
3. Dakwah syariah dan Khilafah terlalu tinggi dan tidak dapat difahami oleh masyarakat awam.
4. Dakwah menegakkan syariah dan Khilafah berisiko tinggi; dan pelbagai slogan lagi digunakan.
Propaganda seperti ini, selain menyesatkan, juga bertujuan agar gerakan Islam tidak lagi memberikan tumpuan pada aktiviti "melenyapkan aturan dan sistem kufur" (izalaatul munkaraat) yang menjadi persoalan utama, kerana terlalu sibuk dengan persoalan-persoalan cabang. Dengan begitu, sistem kufur yang menjadi punca permasalahan ummah tidak akan pernah disentuh oleh gerakan Islam akibat beralihnya fokus perhatian mereka ke persoalan-persoalan cabang.
Dari sini dapat difahami kenapa gerakan Islam tidak boleh memfokuskan perjuangannya pada masalah-masalah cabang, seperti membaiki bidang kesihatan, pendidikan, akhlak, dan lain-lain. Sebab dakwah seumpama ini akan memalingkan umat dari persoalan utama mereka, yakni melenyapkan sistem kufur dan menggantinya dengan sistem Islam.
Mempersiapkan Umat
Sikap meremeh-remehkan perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyyah juga kelihatan pada sikap sebahagian kaum Muslimin iaitu menunda-nunda dakwah menegakkan Khilafah. Mereka memberikan alasan bahawa umat belum siap. Akibatnya mereka cenderung menunda serta mengabaikan aktiviti dakwah yang paling penting ini. Mereka sibuk pula dengan bentuk-bentuk dakwah yang tidak pernah dapat menyelesaikan masalah kaum Muslimin secara total.
Sikap seperti ini jelas salah. Puncanya, kerana seorang mukmin wajib segera melaksanakan perintah ALLAH SWT, tidak boleh baginya menunda-nunda. Jika alasannya adalah umat belum bersedia, langkah yang perlu dilaksanakan adalah mempersiapkan umat dengan idea-idea Khilafah Islamiyyah secepat mungkin, bukan menundanya. Sebab, jika dakwah seruan menegakkan Khilafah ditunda-tunda, sudah tentu umat tidak pernah akan bersiap-sedia. Umat harus diberi kefahaman dan dipersiapkan dengan segera, agar Khilafah Islamiyyah boleh ditegakkan secepat mungkin.
Malahan kita melihat golongan yang mempromosikan idea 1 Malaysia di negara ini tidak pun menunggu kesediaan masyarakat untuk membawanya. Lantas kenapa masih ada sebahagian muslim menangguh-nangguh kewajipan menegakkan Khilafah Islamiyyah dengan alasan umat belum bersedia?
Friday, 25 February 2011
SAMBUNGAN 2: APAKAH KANDUNGAN UTAMA KALIMAH LA ILAHA ILA LAAH?
UNSUR KETIGA:
Tidak Mencari Hukum Selain Hukum ALLAH
Makna bahagian ketiga “Tidak mencari hukum selain hukum ALLAH” iaitu: Tidak tunduk kepada segala bentuk hukum-hukum selain dari hukum ALLAH, dan segala perintah selain dari perintah ALLAH, dan semua bentuk sistem hidup selain dari sistem hidup yang ditetapkan oleh ALLAH, dan semua perundangan selain dari Syariat ALLAH, dan semua bentuk undang-undang ciptaan manusia atau tradisi atau ikutan atau manhaj (kaedah atau pendekatan) atau fikrah (pemikiran) atau nilai yang tidak dibenarkan oleh ALLAH. Sesiapa yang menerimapakai mana-mana bahagian yang disebut di atas samada ketika dia menjadi pemerintah (atau penggubal undang-undang) atau pun semasa dia menjadi rakyat, tanpa kebenaran daripada ALLAH, maka dia telah membatalkan bahagian yang paling asas daripada unsur-unsur Tauhid, kerana dia mencari hukum selain dari hukum ALLAH, sedangkan Hak Menetapkan Undang-undang serta Syariat Yang Tertinggi merupakan hak mutlak ALLAH semata-mata. Firman ALLAH:
{Hukum itu tidak lain hanya, bagi ALLAH. Dia menyuruh supaya kamu jangan menyembah, melainkan kepadaNya. Demikianlah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui}(Yusuf:40).
Bahagian ini sebenarnya merupakan tuntutan mengEsakan ALLAH dari aspek rububiyah dan ilahiyyah. Sesungguhnya sesiapa yang menjadikan seseorang dari hamba-hamba ALLAH (manusia) sebagai penggubal syariat dan perundangan, yang berkuasa memberikan arahan serta larangan, menghalalkan dan mengharamkan mengikut apa yang individu tersebut inginkan, dan dia berikan hak ketaatan kepada individu tersebut, sekalipun individu tersebut menghalalkan perkara-perkara haram, seperti perbuatan berzina, riba’, arak, perjudian, mengharamkan perkara-perkara halal, seperti talak (cerai nikah) dan poligami, menggugurkan kewajipan seperti Khilafah, Jihad, Zakat, amar makruf nahi munkar serta pelaksanaan hukum-hukum ALLAH. Sesiapa yang menjadikan individu atau golongan yang mempunyai ciri-ciri yang disebut di atas sebagai pemerintah serta penggubal undang-undang, maka hakikatnya dia telah menjadikan individu atau golongan tersebut tuhan yang dipatuhi setiap perintahnya, serta diikuti setiap peraturannya. Ini disebut dalam Quran dan dijelaskan pula oleh sunnah. Surah At-Taubah menyebut berkaitan dengan Ahli Kitab :
{Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) menjadikan ahli-ahli agama dan pendita-pendita mereka sebagai tuhan-tuhan selain ALLAH, dan Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan}(At-Taubah:31).
Kenapa mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) dikatakan menjadikan pendita-pendita mereka sebagai tuhan-tuhan padahal mereka tidak sujud dan beribadat kepada pendita-pendita itu sama seperti menyembah berhala-berhala?
Persoalan ini dijawab sendiri oleh Rasulullah salalahu alaihi wa sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmizi, dan Ibnu Jarir iaitu kisah masuk Islam Aadi Ibnu Hatim At-Thoiie, yang telah menganut agama Nasrani pada zaman jahiliyyah. Beliau datang ke kota Madinah, dan orang ramai heboh memperkatakan mengenai kedatangannya. Dia masuk untuk bertemu dengan Rasulullah s.a.w. dalam keadaan di lehernya tergantung sebuah kayu salib yang diperbuat daripada perak. Ketika itu Baginda sedang membaca ayat ini:
{Mereka menjadikan ahli-ahli agama dan pendita-pendita mereka sebagai tuhan-tuhan selain ALLAH…}. Maka berkata Aadi: kami tidak sekali-kali menyembah mereka (pendita-pendita itu)! Nabi s.a.w pun membalas: “Memang kamu menyembah mereka, kerana mereka telah mengharamkan yang halal serta menghalalkan yang haram, kemudian arahan mereka ini dipatuhi. Itulah satu bentuk ibadat kepada mereka”.
Ibnu Kathir menyebut: beginilah kata Huzaifah bin Al-Yaman, dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini:
Bahawa ahli-ahli kitab itu mengikuti pendita mereka dalam perkara-perkara yang mereka halalkan dan haramkan. As-Suddiy pula menyebut: orang ramai meminta nasihat padahal pendita-pendita itu tidak mengendahkan kitab ALLAH yang mereka sembunyikan di belakang mereka. Berkenaan perbuatan mereka ini ALLAH berfirman: {Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa} iaitulah Tuhan yang jika Dia menghalalkan sesuatu maka perkara itu menjadi Halal, dan apa-apa yang Dia haramkan maka perkara itu Haram, dan apa-apa bentuk peraturan yang diletakkanNya wajib diikuti, dan hukum-hakamNya wajib dilaksanakan, Tiada Tuhan selainNya, Maha Suci ALLAH dari apa yang mereka persekutukan.
SAMBUNGAN 1: APAKAH KANDUNGAN UTAMA KALIMAH LA ILAH ILLA LAAH?
Syiar “ربنا الله “ maksudnya ‘Tuhan kami ALLAH’ adalah satu bentuk pengistiharan pemberontakan serta penentangan terhadap penguasa yang zalim di dunia ini.
Oleh kerana matlamat inilah Nabi Musa a.s. menghadapi ancaman akan dibunuh, dan bangkit seorang pemuda yang beriman daripada kalangan kerabat keluarga Firaun lalu berkata:
{Patutkah kamu membunuh seorang lelaki kerana dia menegaskan: Tuhanku ialah ALLAH?!}
(Al-Mu’min @Ghaafir:28).
Oleh kerana matlamat ini jugalah Nabi kita Muhammad salallahu alaihi wa salam serta para sahabat baginda menghadapi penindasan, penyeksaan dan pengusiran dari tanah air dan harta-benda..
{Mereka yang diusir dari kampung halamannya dengan tidak berdasarkan sebarang alasan yang benar, semata-mata kerana berkata: Tuhan kami ialah ALLAH}
(Al-Hajj:40).
UNSUR KEDUA:
Tidak Mengambil Selain ALLAH Sebagai Penolong (Wali)
Makna bahagian kedua “Tidak mengambil selain ALLAH sebagai penolong (wali)” iaitu tidak sekali-kali menyerahkan AL-WALA’ (kesetiaan) kepada selain dari ALLAH dan partiNya. Bukanlah daripada ajaran Tauhid, seseorang mengaku bahawa Tuhannya adalah ALLAH, kemudian dia menghalakan kesetiaan, cinta serta sokongannya kepada selain ALLAH, barangkali kepada musuh-musuh ALLAH.
Firman ALLAH:
{Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin, pelindung, penolong). Dan sesiapa yang melakukan sedemikian maka tiadalah ia (mendapat perlindungan) dari ALLAH dalam sesuatu apa pun.}
(Ali Imran:28).
{Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah ALLAH, RasulNya serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dalam keadaan mereka tunduk (menjunjung perintah ALLAH). Dan sesiapa yang menjadikan ALLAH dan RasulNya serta orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya golongan (yang berpegang kepada ajaran) ALLAH itulah yang tetap menang.}
(Al-Maidah:55-56).
Di sini Al-Quran mencela golongan musyrikin apabila mereka membahagi-bahagikan (kesetiaan) hati mereka antara ALLAH Ta’ala dengan tuhan-tuhan tandinganNya yang mereka ambil daripada berhala-berhala, lalu mereka memberikan cinta dan kesetiaan sama sebagaimana mereka berikan kepada ALLAH.
{Ada di antara manusia yang mengambil selain dari ALLAH (menjadi) sekutu-sekutu ALLAH, mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai ALLAH; sedangkan orang-orang yang beriman itu sangat-sangat mencintai ALLAH s.w.t.}
(Al-Baqarah:165).
Sesungguhnya ALLAH tidak akan menerima sebarang bentuk perkongsian di dalam hati-hati hamba-hambaNya yang beriman. Maka tidak boleh dijadikan sebahagian hati untuk ALLAH dan sebahagian lagi untuk Thaghut, atau sebahagian untuk Khaliq (Tuhan yang menciptakan-ALLAH) dan sebahagian lagi untuk makhluk. Seluruh kesetiaan dan hati wajib diserahkan kepada ALLAH, Tuhan seluruh alam ciptaanNya serta semua urusan. Inilah perbezaan di antara orang mukmin dengan orang musyrik, orang mukmin menyerahkan diri kepada ALLAH, sepenuh Ubudiyah (pengabdian diri) bagi ALLAH semata-mata, sedangkan orang musyrik membahagikan (kesetiaan dan pengabdian) antara ALLAH dan selain ALLAH:
{Allah memberikan satu contoh perbandingan: seorang hamba yang dimiliki oleh beberapa tuan-tuan yang berkongsi dan tuan-tuan itu saling bertentangan tabiat serta kemahuan, dengan seorang hamba yang dimiliki oleh seorang tuan sahaja; adakah kedua-dua hamba itu sama keadaannya? (Tentulah tidak sama). Segala pujian hanya bagi ALLAH. Bahkan kebanyakan mereka (yang musyrik) itu tidak mengetahui}
(Az-Zumar:29).
Subscribe to:
Posts (Atom)























